Sabtu, September 04, 2010
   
Text Size

PIP PKS SUDAN Gelar Seminar Bisnis dan Usaha di Sudan

Dalam seminar kali ini, PIP PKS Sudan menghadirkan tiga pembicara yang berkompeten di bidangnya yaitu Kepala Bidang Ekonomi KBRI Khartoum Sudan, Agus Mardianto, MM, Manajer Eksplorasi Pan Energy Oil and Gas Company Sudan, Ir. Abdul Kohar dan General Manager Pertamina Proyek Sudan, Ir. Zulkifli Abu Bakar.
Pusat Informasi dan Pelayanan Partai Keadilan Sejahtera Sudan/ PIP PKS Sudan dalam rangkaian kegiatan Musyawarah PIP PKS Sudan ke II tahun 2008 gelar seminar Peluang Bisnis dan Usaha di Sudan. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 11 Juli 2008 di Aula Dakwah International University of Africa, Khartoum-Sudan tersebut dihadiri oleh 95 peserta dari berbagai kalangan masyarakat Indonesia di Sudan seperti mahasiswa, staff KBRI, tenaga professional dan staff United Nations/ UN di Sudan .

Dalam seminar kali ini, PIP PKS Sudan menghadirkan tiga pembicara yang berkompeten di bidangnya yaitu Kepala Bidang Ekonomi KBRI Khartoum Sudan, Agus Mardianto, MM, Manajer Eksplorasi Pan Energy Oil and Gas Company Sudan, Ir. Abdul Kohar dan General Manager Pertamina Proyek Sudan, Ir. Zulkifli Abu Bakar.

Agus Mardianto, MM mengatakan bahwa hubungan bilateral Indonesia-Sudan selama tiga tahun terakhir mencatat perkembangan yang signifikan. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya nilai perdagangan kedua negara dan adanya kunjungan timbal balik antar pejabat-pejabat tinggi dua negara. Berdasarkan data statistik perdagangan Bank of Sudan/ BoS intensitas perdagangan ekspor Indonesia ke Sudan untuk kategori derect trading mencapai US$71 juta sementara itu indirect trading yang melibatkan pihak ketiga sebagai sole agent mencapai US$1,04 milyar.

Dijelaskan bahwa Sudan memiliki potensi pertanian yang sangat besar. Dalam skala international dapat dikatakan bahwa negara ini merupakan negara yang memiliki potensi pertanian terbesar ke 3 (tiga) setelah Canada dan Australia. Sebagai contoh luas lahan pertanian Sudan mencapai 84 juta HA. Dari luas lahan tersebut baru 13,4 juta HA atau sekitar 15-20% saja yang tergarap. Luas lahan dimaksud didukung dengan adanya potensi air melimpah dari aliran Sungai Nil ( white nile dan blue nile) yang membelah Sudan.   

Selain potensi pertanian, menurut pelaksana bidang ekonomi KBRI Khartoum ini, Sudan juga memiliki potensi kekayaan ternak yang diperkirakan mencapai 170 juta ekor meliputi domba, sapi dan unta. Potensi ikan tawar di Sungai Nil juga sedang budidayakan secara terpadu dengan melalui berbagai kerjasama strategis dengan para investor. Khusus mengenai kerjasama Pemerintah Sudan dengan Indonesia di bidang ini telah dilakukan pembicaraan kerja sama yang melibatkan Departemen Kelautan dan Perikanan RI serta Departemen Pertanian RI.

Seminar yang dimoderatori langsung oleh ketua PIP PKS Sudan periode 2006-2008, Harianto Boimin, MA ini semakin ramai dengan pemaparan Ir. Abdul Kohar yang sudah 40 tahun menggeluti dunia perminyakan. Menurutnya Sudan memiliki potensi bahan mineral yang cukup besar. Pada tahun 1988 sekitar 78.000 metric kilogram emas berhasil ditambang. Demikian juga dengan chrome yang pada tahun 1970 produksinya mencapai 20.000 ton per tahun. Saat ini Sudan diperkirakan masih memiliki cadangan 220 juta ton gypsum yang berada di sepanjang laut merah.

Alumni Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung/ ITB ini yang selama karirnya dalam dunia perminyakan telah berhasil menemukan lebih dari 100 juta BBL minyak dan sekitar 6 TCF gas (Pagerungan dan Wiriagar) mengatakan bahwa Sudan memiliki potensi minyak yang sangat besar. Cadangan minyak hingga dengan Januari 2008 diperkirakan mencapai 2.05 Billion Barrel dari dua cekungan minyak yang telah dieksplorasi. Padahal, Sudan saat ini memiliki 13 cekungan minyak yang mayoritas penyebarannya berada di darat dan sebagian kecil di Laut Merah. Produksi minyak harian Sudan pada tahun 2007 mencapai 560,000 BOPD. Potensi minyak yang begitu besar tersebut saat ini dikelola kurang lebih sekitar 14 perusahaan local dan asing yang terbagi dalam 20 blok kontrak perminyakan.

Lain halnya dengan General Manager Pertamina proyek Sudan, Ir. Zulkifli Abubakar. Alumni Teknik Geologi Universitas Padjajaran Bandung yang telah terjun dalam dunia eksplorasi sejak tahun 1984 ini melihat bahwa Indonesia memiliki peluang cukup besar untuk melakukan eksplorasi minyak di Sudan. Hal itu mengingat adanya kedekatan historis dan budaya antar dua Negara yang mendorong Sudan untuk lebih memilih Indonesia sebagai pathener strategis dalam mengelola industri perminyakan dalam negeri. Berbagai tawaran untuk turut mengelola blok perminyakan cukup sering ditawarkan. Permasalahannya adalah kesiapan kita dalam memanfaatkan dan menindaklanjuti tawaran tersebut.

Secara umum indrustri perminyakan di Sudan saat ini didominasi oleh CNPC (China) dan PETRONAS (Malaysia). Perusahaan minyak dari Amerika dan Eropa tidak ada di Sudan kecuali perusahaan minyak Prancis yang baru-baru ini mengadakan kesepakatan pengeboran dengan Goverment of South Sudan/ GoSS. Kondisi ini semakin mendukung bagi Indonesia untuk mengembangkan bisnis perminyakannya di Sudan.

Namun demikian, untuk merealisasikan harapan tersebut tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagaimana ditegaskan oleh Ir. Zulkifli Abubakar, bahwa bisnis perminyakan adalah bisnis yang membutuhkan biaya yang besar dan padat teknologi serta beresiko tinggi. Oleh karena itu siapa yang mau memanfaatkan peluang bisnis dan usaha di Sudan yang terbuka lebar.