Sabtu, September 04, 2010
   
Text Size

Investasi Di Sudan

Kekayaan alam yang melimpah, namun tidak diiringi dengan kemajuan teknologi dalam mengolahnya adalah pertanda terbukanya sebuah peluang investasi di sebuah negara. Nampaknya semua itu terdapat di Sudan. Banyak hal lain yang bisa menjadi daya tarik para investor, antara lain:
1. Letak geografis Sudan yang membuat usaha pemasaran produk ke luar menjadi sangat mudah.
2. Kekayaan alam yang melimpah menunggu pihak asing untuk mengolah. Kekayaan itu antara lain berupa tanah pertanian, sumber air tawar yang melimpah, hutan, ladang peternakan, kekayaan hewani, kekayaan tambang berupa minyak dan logam mulia. Sudan juga kaya dengan berbagai bahan baku untuk industri.
3. Infrastruktur yang ada sangat memungkinkan untuk terus dikembangkan, apalagi setelah ditemukannya minyak, seperti jalan, jembatan, listrik, komunikasi, pelabuhan laut dan udara, dan sebagainya. Fasilitas yang lain juga cukup memadai, seperti perbankan, asuransi, konsultasi keuangan, hukum dan teknis.
4. Stabilitas politik. Terlihat dari sistem pemerintahan federal yang digunakan Sudan. Melalui sistem ini, partisipasi seluruh lapisan rakyat bisa lebih memungkinkan. Walaupun ada beberapa gejolak di beberapa wilayah, namun akhir-akhir ini terlihat perkembangan yang sangat menggembirakan, ditandai dengan kesepakatan perdamaian yang telah dicapai dengan SPLA. Dengan perdamaian ini, gerak kelompok-kelompok pemberontak lain akan semakin sempit. Takkan lama lagi, tentu akan ada perdamaian di wilayah-wilayah bergejolak yang lain. Terakhir, perangkat peradilan Sudan juga independen, sehingga konflik-konflik yang timbul akan lebih mudah diselesaikan. Hukum yang berlaku juga tidak membedakan antara pribumi dan pendatang asing.
5.Dari segi politik ekonomi, Sudan sangat  menarik. Misalnya pengembangan pasar saham, swastanisasi sarana umum, pembaruan terus-menerus pada undang-undang investasi, pembebasan pajak pada keuntungan proyek-proyek investasi untuk waktu lima sampai sepuluh tahun, pembebasan bea cukai pada barang-barang yang didatangkan untuk persiapan sebuah proyek investasi, pemberian lahan secara gratis untuk proyek-proyek strategis, penjualan lahan dengan harga murah untuk proyek non-strategis, investor juga bisa mengelola proyeknya sendiri tanpa rekanan dari orang Sudan.

Hal-hal di atas merupakan usaha pemerintah Sudan yang sangat serius dalam mendatangkan para investor asing. Setelah melihat beberapa kemudahan itu, di bawah ini bidang yang sangat mungkin dijadikan lahan investasi. Yaitu:

1. Eksplorasi Minyak
Di belakang kebangkitan ekonomi Sudan yang demikian pesat adalah ditemukannya ladang-ladang minyak. Menurut seorang pakar perminyakan Barat, Sudan adalah sebuah negara yang terapung di atas sebuah danau minyak yang berkualitas tinggi. Penemuan ini sempat menjadi dalih pemberontakan SPLA di Selatan. Mengingat sebagian besar ladang tersebut berada di wilayah selatan. Sedangkan selatan selama ini merasa sebagai wilayah yang kurang disentuh pembangunan. Untuk proses eksplorasi, telah banyak negara yang menanamkan modalnya. Misalnya China, India, Malaysia, dan Korea. Mereka membuat konsorsium perusahaan minyak. Bahkan Sudan adalah usaha terbesar bagi Malaysia dan China di luar negeri. Bagi dua negara ini, investasi di perminyakan juga telah membuka peluang-peluang investasi di bidang lain.
Tak heran jika untuk Malaysia saja, hingga sekarang pegawai yang mereka datangkan sudah mencapai 800 orang. Belum lagi tenaga lokal, seperti para mahasiswa Malaysia yang sedang belajar di Sudan. Mereka turut diuntungkan dengan keberadaan Petronas. Sebenarnya Pertamina pernah ditawari menggarap beberapa blok ladang minyak yang sangat potensial, bahkan sangat jauh dari wilayah konflik. Tapi tawaran itu tidak mendapatkan sambutan yang memuaskan. Akhirnya tawaran itu dialihkan kepada perusahaan negara lain. Selain untuk eksplorasi, Indonesia juga ditawari proyek pengadaan pipa-pipa penyalur minyak dari berbagai wilayah ke pelabuhan. Tawaran ini tidak bernasib lebih baik dari tawaran pertama. Namun demikian, kesempatan masuk ke perminyakan Sudan belumlah tertutup. Dan Pertamina baru masuk ke Sudan tahun 2008.

2. Pertanian
Sebenarnya lahan pertanian Sudan yang layak tanam adalah sekitar 84 juta hektar. Namun yang sudah produktif baru hanya 13 juta. Dari angka ini, kita bisa melihat banyak sekali kesempatan yang masih terbuka bagi investor asing untuk mengembangkan usahanya di bidang pertanian. Selama ini penggarapan tanah di Sudan menggunakan sistem skim, yaitu pemerintah menyediakan lahan dan fasilitas perairan yang dibutuhkan.

Penggarap diberi dua pilihan, antara membayar fasilitas itu, atau penggarap hanya mendapatkan upah dari kerjanya. Lahan di Sudan sangat cocok untuk pengembangan tebu, kapas, getah Arab, sorgum, kacang tanah, sassame, dan lain-lain. Investasi juga bisa dikembangka kepada pengolahan produk pasca panen, seperti pabrik tebu, penyulingan minyak-minyak kacang, sassame, dan sebagainya. Saat ini terdapat lima pabrik tebu. Dari lima pabrik itu, satu yang terbesar adalah dimiliki dan dikelola oleh swasta dan investor asing. Sampai saat ini, investor yang sudah masuk ke bidang pertanian adalah Malaysia, India, dan Yordania.

3. Pengadaan alat transportasi
Sudan adalah negara dengan wilayah terluas di benua Afrika. Namun dalam menghubungkan antara satu wilayah dengan lainnya, masih mengandalkan jalur transportasi udara. Memang ada beberapa wilayah yang bisa dijangkau dengan jalur darat, namun kualitasnya masih rendah. Itu disebabkan kurangnya jalan raya beraspal dan rel kereta api.

Setelah pertumbuhan ekonomi terakhir, pemerintah sangat memperhatikan sektor infrastruktur perhubungan ini. Jalan raya beraspal diperbaharui, dan jalan tanah mulai diaspal. Sedangkan jalur-jalur yang penting untuk ekonomi, selain menggunakan aspal, juga menggunakan jalur kereta api. Sampai saat ini, jalur kereta api yang ada hanyalah jalur Khartoum-Wadi Halfa (900 Km), Khartoum-Port Sudan (800 Km), dan Khartoum-Juhainah (lebih dari 1000 Km). Jalur-jalur itu pun adalah peninggalan penjajah Inggris yang sudah harus diremajakan lagi. Indonesia sudah pernah ditawari untuk menangani peremajaan rel kereta  api dan pengadaan gerbng-gerbong baru, namun sampai saat ini hal itu belum terealisasi.