Sabtu, September 04, 2010
   
Text Size

Kesempatan Ekspor Ke Sudan

Angka inflasi Sudan mengalami penurunan dari 9,2 % pada Desember 2003, menjadi 7,3 % pada Juni 2004. Mata uang  Sudan  adalah Pound Sudan. Nilai  tukarnya mengalami penguatan yang besar  pada setahun terakhir.

Pada Maret 2004, kurs dollar Amerika adalah 259 SDG, sedangkan pada pertengahan tahun 2005  ini kurang dari 250 Pound. Selain itu, Sudan mendapatkan prestasi yang sangat gemilang dalam pertumbuhan ekonominya, yaitu hingga 9 % pada tahun 2004.


Untuk  merangsang peningkatan ekspor, pemerintah menerapkan kebijakan yang memudahkan para eksportir, misalnya dengan penghapusan beacukai untuk beberapa komoditi dan menyederhanakan birokrasi ekspor.

Peningkatan sektor perdagangan luar negeri ini bisa kita lihat pada tabel di bawah ini:

1. Nilai ekspor Sudan (dalam Pound Sudan)


2. Nilai Impor Sudan (dalam Dollar Amerika)

Semua penjelasan di atas tidak lain menunjukkan perkembangan ekonomi yang sangat pesat. Perkembangan itu terus berlanjut hingga sekarang. Apalagi setelah ditandatanganinya perjanjian damai dengan SPLM/A (Sudan People Liiberation Movement / Army) pimpinan John Garang yang didukung penuh oleh Barat.

3. Kesempatan Ekspor  Ke  Sudan
Sudan adalah pasar yang sangat potensial di benua Afrika. Ada banyak penyebab, antara lain:

a. Letak geografis Sudan cukup  strategis. Sudan adalah pintu gerbang benua Afrika dari arah timur. Mempunyai wilayah di perairan Laut Merah, sehingga bisa dikatakan berada di tengah pasar dunia. Posisinya juga memungkinkannya menjadi jalur lalu lintas kapal-kapal  dagang dunia.

b.Sudan adalah negara yang baru menggeliat dalam bidang ekonomi. Sehingga pengembangan sektor industri masih sangat terbatas. Oleh karena itu, banyak sekali produk industri yang masih dibutuhkan, dan didatangkan dari luar negeri.

c. Walaupun baru bangkit, namun ternyata tingkat pertumbuhan ekonominya sangat menakjubkan. Untuk tahun 2003-2004, Sudan berhasil mencapai angka pertumbuhan hingga 9 %.

d.Sudan adalah pintu gerbang negara-negara locked land di sekitarnya. Dari sembilan negara tetangga, ada lima ne gara tetangga yang tidak memiliki perairan laut, sehingga semua barang yang masuk harus melalui negara lain yang berpelabuhan. Sebenarnya peran penting ini sangat diincar negara lain, seperti  Mesir. Namun dari efektifitas, Mesir sangat jauh dari lima negara itu. Yang paling memungkinkan memang adalah Sudan. Sampai sekarang, negara yang masih memanfaatkan pelabuhan Port Sudan adalah Ethiopia. Sedangkan Chad sampai sekarang masih mengadakan pembicaraan serius untuk memanfaatkan jalur kereta api dalam mengangkut berbagai kebutuhannya dari Port Sudan.

e. Pasar Sudan yang cukup besar, sekitar 33 juta jiwa penduduk. Karena Sudan berinteraksi dagang dengan negara tetangga, apalagi setelah penandatanganan kerjasama ekonomi terakhir, maka besar pasar Sudan sebenarnya adalah 400 juta jiwa.

f. Sudan mempunyai kebijakan regulasi berupa memberi kesempatan kepada semua jenis komoditi  untuk masuk, kecuali barang-barang terlarang seperti narkotik, senjata, dan lain-lain.

4. Kesulitan Yang Sering Dijumpai  Dalam Ekspor
Walau banyak keistimewaan yang dimiliki, banyak pula kesulitan yang kadang menjadi penghalang. Di antaranya adalah:

a.Bank-bank pemerintah, dalam memberikan jaminan keuangan dalam sebuah transaksi perdagangan, menerapkan kebijakan ketat. Hal itu terjadi mungkin karena keadaan ekonomi yang masih baru bangkit, dan belum siap menanggung bila terjadi kasus-kasus kredit macet. Sedikit banyak hal ini membuat pengekspor merasa khawatir atas  ketiadaan jaminan pemerintah itu.

b. Transportasi adalah unsur yang sangat penting dalam memuluskan perdagangan. Mengingat infrastruktur Sudan yang masih terbatas, biaya transportasi cukup besar. Jarak 800 Km yang ditempuh dari Port Sudan menuju Khartoum bila memakai jalur kota Athbarah, bisa menelan biaya US$ 600 (untuk konteiner ukuran 20 kaki) dan  US$ 800 (untuk konteiner ukuran 40 kaki).

c. Karena tidak ingin mengandalkan ekspor migas, pemerintah Sudan berusaha  menghidupkan industri dalam negeri. Dalam memberikan proteksi, pemerintah menetapkan bea cukai yang cukup tinggi untuk barang-barang import. Komoditi garmen misalnya, bea cukai plus biaya lainya bisa mencapai 65 %. Sebenarnya, bea cukai Sudan hanya dikategorikan dalam tiga kelas saja; 10 %, 25 %, dan 45 %. Namun masih ada pungutan lain yang harus dipenuhi sehingga biayanya kian tinggi. Misalnya 10 % untuk pajak berganda (WAT), 5 % untuk Quality Tax, 1 % untuk Clearence, dan masih ada beberapa biaya lainnya.

d. Dalam pembayaran, kebanyakan pengusaha Sudan lebih menyukai model L/C (Letter of Credit) bukan transfer. Hal ini cukup menyulitkan pengusaha Indonesia yang lebih memilih system transfer. Biasanya pengusaha Indonesia meminta 40 % pembayaran dilakukan secara cash, selebihnya adalah dengan transfer.

e. Dalam kesuksesan ekspor, ada-tidaknya pesaing dan bagaimana bentuk persaingan sangat menentukan. Sampai saat ini, rupanya China adalah negara yang mendapatkan bagian paling besar dalam perebutan pasar Sudan. Setidaknya ada tiga sebab di belakang hal itu. Pertama, China boleh dibilang sudah lama menanamkan pengaruhnya di Sudan, bahkan jauh sebelum Sudan menemukan ladang minyak. China banyak memberi peran pada pembangunan Sudan. Banyak jembatan, jalan raya, gedung-gedung yang mereka bangun. Kedua, China membuat undang-undang yang memberikan perlakuan khusus pada komoditi ekspor negara-negara Afrika, dengan membebaskan bea cukai. Kebijakan itu bertujuan merangsang perkembangan ekonomi negara-negara terbelakang (Afrika). Bila demikian, maka negara-negara Afrika, termasuk Sudan, juga akan mempermudah barang-barang China masuk. Ketiga, para pengekspor China mempermudah para pengimpor Sudan dalam hal jaminan keuangan dari bank pemerintah Sudan. Mereka tidak mensyaratkan jaminan itu. Ini sangat memudahkan pengimpor Sudan, dan mempercepat terlaksananya sebuah transaksi, mengingat pemerintah Sudan sangat ketat dalam memberikan jaminan itu. Keempat, China mempunyai produk-produk murah, hal ini sesuai kemampuan  eknomi  mamsyarakat  Sudan. Karena tiga hal di atas, tidak mengherankan jika China sekarang sudah menguasai 75 % minyak dan 90 % tekstil Sudan.

f. Imej pengusaha Indonesia yang masih cenderung menganggap politik Sudan tidak stabil. Sehingga mereka khawatir jika usaha yang mereka rintis akan terancam kandas begitu saja bila terjadi perubahan politik yang drastis. Sebenarnya ketakutan ini perlu diteliti ulang, karena ternyata masih banyak perusahaan dari negara lain yang berani berbisnis di sana. Berlebihankah ketakutan pebisnis Indonesia selama ini?