Sabtu, September 04, 2010
   
Text Size

Komoditi Yang Banyak Dibutuhkan di Sudan

Bidang industri Sudan masih belum maju, sehingga pasar Sudan masih sangat terbuka untuk semua jenis komoditi. Hampir semua komoditi dipastikan bisa masuk. Barang-barang yang sekarang didatangkan Sudan dari luar, antara lain: bahan kimia untuk pertanian, peralatan mesin untuk pertanian, peralatan pertanian, aluminium,  mobil, suku cadang mobil, aki, ban, madu, buku tulis, peralatan konstruksi bangunan, bahan bangunan, karpet, semen, keramik, bahan kimia, peralatan komunikasi, komputer dan perangkat kerasnya, alat kosmetika, sabun cuci, lemon kering, peralatan listrik, film, buah-buahan, furniture, garmen, sepatu, peralatan gas, kaca, emas, peralatan industri, pelumas, peralatan komunikasi, peralatan kedokteran, obat-obatan, baja, olahan baja, accessories handphone, optik, bahan-bahan untuk untuk pengemasan (packing), cat, peralatan cat mobil, kertas, susu bubuk, parfum, hasil olahan minyak, pipa minyak, peralatan perminyakan, mesin fotokopi, plastik, mesin cetak, alat-alat pengaman, hasil olahan kelautan, sabun, peralatan olah raga, alat tulis, manisan, teh, kopi, tekstil, tembako, pasta gigi, sarana transportasi, minyak sayur, senjata, jam, gandum, kayu, peralatan workshop, peralatan perairan, AC, peralatan nelayan, suku cadang pesawat terbang, suku cadang pompa, aspal, pita kaset, sistem listrik tenaga surya, jahe, kabel, mainan anak-anak, mesin jahit, perlengkapan perbankan, perlengkapan jalan, perlengkapan restauran dan hotel, alat pengebor sumur, generator dan lain-lain.

Namun untuk Indonesia secara khusus, ada beberapa jenis yang sangat dibutuhkan dan digemari oleh pasar Sudan, antara lain:

1. Garmen / tekstil
Tiga tahun terakhir pasar garmen dikuasai China. Sebelumnya, Indonesia bisa dikatakan sebagai pemasok utama. Produk yang paling digemari adalah Tetron, karena banyak digunakan untuk pakaian khas Sudan yang berwarna putih. Bahkan untuk mendatangkan tekstil, para pedagang pasar khusus tekstil (pasar Libya) bergabung untuk bisa mendatangkannya dari Indonesia dalam jumlah besar. Sekarang mereka juga memanfaatkan orang Sudan yang sudah banyak di Indonesia untuk menjadi perantara pengiriman ke Sudan.  

2. Aki Mobil
Selama ini yang sudah masuk ke pasaran Sudan antara lain produk dari Astra (sudah mencapai US$ 5 Juta), GS (30 kontainer pertahun), Incoe (125 kontainer pertahun), Yuasa, Baterindo, Sarina (sekarang menjadi produk lokal di Sudan dengan lisensi). Walaupun terlihat sudah banyak yang masuk, namun masih belum memenuhi seluruh kebutuhan.
 
3. Ban Mobil
Selama ini yang sudah ramai di pasar adalah produk GT (Gajah Tunggal). Masuk ke pasaran Sudan ratusan kontainer pertahun. Namun barang ini tidak langsung didatangkan dari Indonesia, melainkan dari Dubai. Selain GT, produk Indonesia yang juga diminati adalah ban produksi Mega. Bila ada inisiatif dan usaha mendatangkannya langsung dari Indonesia tentu akan sangat menguntungkan.

4. Furniture
Pertumbuhan ekonomi Sudan yang pesat turut mewarnai usaha untuk mematut diri pada indoor perkantoran, perumahan, dan lain-lain. Furniture perkantoran yang dulu sangat bersahaja pun kian lama kian apik. Komoditi itu banyak diimpor dari China, Malaysia dan Indonesia. Persaingan negara pengekspor itu masih berimbang. Dari Indonesia, didominasi oleh Olympic (Cahaya Sakti Purintraco). Jenis yang paling diminati adalah furniture dengan gaya knockdown (bisa dibongkar-pasang), dan pintu jadi (dengan bahan kayu press, ukuran 80 cm). Sedangkan untuk jenis furniture dengan bahan kayu solid, seperti produksi ukiran Jepara, masih perlu promosi yang lebih kuat lagi.

5. Semen
Pembangunan infrastruktur di semua bidang membutuhkan pasokan semen yang sangat besar. Sampai saat ini, kebutuhan itu banyak dipenuhi oleh negara-negara tetangga seperti Mesir, Saudi, dan Yordania. Bahkan kedua negara yang disebut terakhir sudah berhasil membangun pabrik packingnya di pelabuhan Port Sudan. Hingga semen mereka dikapalkan dalam bentuk curah. Namun demikian, ternyata pihak Sudan masih meminta pasokan semen dari Indonesia. Berkali-kali mereka bertandang ke KBRI mengungkapkan keinginannya itu. Yang banyak membuat eksportir Indonesia lambat melayaninya adalah masalah pengkapalan dan tranportasi darat di Sudan kemudian. Jauhnya jarak Indonesia-Sudan, juga membuat perdagangan ini beresiko. Dulu Indonesia pernah lama memasok semen Sudan. Saat itu Indonesia diwakili oleh Bakri Group.

6. Bahan Kimia
Permintaan untuk komoditi ini sudah pernah disampaikan ke pihak kedutaan. Namun hingga kini, setelah kedutaan melanjutkannya ke Indonesia, belum ada pihak yang menyambut. Permintaan itu meliputi kimia untuk kebutuhan industri dan fertilizer.

7. Obat-obatan
Sudah mulai ada transaksi untuk komoditi ini. Di antara perusahaan yang melakukannya adalah Bio Farma dan Kimia Farma. Masalah  yang selama ini banyak dihadapi adalah adanya kebijakan pemerintah Sudan yang menetapkan bahwa semua obat-obatan luar harus mendapatkan registrasi departemen kesehatan Sudan. Untuk mendapatkan registrasi ini dibutuhkan waktu yang cukup lama.

8. Kertas
Walaupun Sudan mempunyai kekayaan hutan yang sangat besar, tapi tidak mempunyai pabrik kertas. Semua kebutuhan kertas dipenuhi dengan jalur impor. Di antara negara asal komoditi kertas adalah Jepang, Malaysia dan Indonesia. Dari Indonesia sendiri ada lima perusahaan yang telah masuk. Di antaranya Paperline, Kiwi, dan Sinarmas. Karena kebutuhan yang tambah bervariasi, maka selain dalam paket-paket jadi seperti buku, kertas fotokopi dan sebagainya, Sudan juga mengimpor kertas gulungan untuk kemudian diolah menjadi produk lain di Sudan. Proses semacam ini dilakukan oleh perusahaan Yamama. Walaupun sudah lima perusahaan kita yang masuk, ditambah dari negara lain, masih banyak lagi kebutuhan kertas Sudan yang belum terpenuhi.

9. Peralatan Kebersihan dan Kosmetik
Dalam komoditi ini, sebenarnya Sudan sudah sampai taraf mengeksport. Namun masih terbatas pada sabun cuci, kualitasnya pun masih rendah. Ekspor mereka pada komoditi ini tidak lain adalah karena kebijakan ekonomi COMESSA. Oleh karena itu, pasar Sudan masih sangat terbuka untuk komoditi ini yang tentunya lebih berkualitas dari produk lokal. Di antara produk Indonesia yang banyak di pasar Sudan adalah GIV.